PERKEBUNAN
TEBU DJENGKOL KEDIRI PTPN X NUSANTARA DALAM BEBERAPA MASSA
Utia
Binti Yuhanni’ur Rohmah 190732638808
Jurusan
Sejarah, Prodi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial
Universitas
Negeri Malang
Email
: hanni16binti@gmail.com
Abstrak
Kediri
merupakan salah satu wilayah di Jawa Timur yang memiliki tanah yang subur.
Sejak akhir abad ke 19 orang – orang Belanda membangun dan mengembangkan industri
pertanian dan perkebunan di Kediri. Perkebunan tebu menjadi salah satu industri
yang paling berkembang pada masa ini, karena Indonesia menjadi swasembada dan
eksportir gula yang kuat. Djengkol menjadi salah satu kawasan perkebunan tebu
yang ada di Kediri. Awalnya Kawasan perkebunan tebu Djengkol yang dikelola oleh
beberapa pemerintahan seperti Belanda dan Jepang kemudian tahun 1950 an setelah
kemerdekaan Presiden Soekarno menasinonalisasi perusahan asing. Tujuan penulisan
dibawah ini adalah (1) Untuk mengetahui keadaan Kawasan Perkebunan Tebu
Djengkol sebelum Pertiwa GESTAPU tahun 1966, (2) Untuk mengetahui peristiwa GESTAPU
di Djengkol pada tahun 1966, (3) Untuk mengetahui fungsi baru Kawasan
Perkebunan Tebu Djengkol sebagai wisata edukasi sejarah, dan (3) Untuk
mengetahui kegiatan ekonomi masyarakat sekitar Djengkol dengan berjulan bekicot.
Hasil penelitian ini adalah setelah nasionalisasi perusahaan asing oleh
Presiden Soekarno banyak sekali peristiwa – peristiwa besar yang terjadi di Kawasan
perkebunan tebu Djengkol salah satunya Peristiwa GESTAPU. Fungsi baru Kawasan perkebunan
tebu Djengkol menjadi sebuah wisata edukasi sejarah, serta kegiatan ekonomi berbahan
dasar bekicot atau siput yang menjadi primadona Djengkol.
Kata kunci : Kediri,
Djengkol, Perkebunan Tebu
PENDAHULUAN
Menurut
Pakpahan (2004) pertanian yang ada di Indonesia menjadi sektor utama dalam
kehidupan bangsa dan negara. Industri pertanian di Indonesia pada masa Hindia
Belanda sangat mendapat perhatian dan fokus dari pemerintah Hindia Belanda.
Kondisi geografis Indonesia yang menguntungkan secara iklim dan geografis
menjadikan Indonesia tempat potensi alam yang luar biasa. Hal ini menjadikan industri
pertanian di Indonesia pada masa Hindia Belanda berkembang. Banyaknya jenis
pertanian, namun yang memiliki dampak besar bagi masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan hidup sangat bergantung pada lahan perkebunan.
Perkebunan
memiliki peran strategis dalam pertanian Indonesia yang dapat dilihat dari tebu
merupakan bahan baku pembuatan gula pasir. Komoditas utama yaitu rempah –
rempah pada abad ke 19 berubah menjadi tanaman industri. Muncul industri – industri
dan pabrik gula yang ada di Indonesia. Lahan perkebunan menjadi komoditas
perdagangan utama saat itu karena perkebunan tebu yang persebaran luas berada
di Pulau Jawa. Pulau Jawa terutama di Jawa Timur menjadi daerah tujuan bagi
orang -orang yang mencari pekerjaan untuk bekerja di pabrik gula atau
perkebunan tebu.
Pembangunan
pabrik gula menciptakan perubahan didalam sistem tanam paksa, yang semula
memerlukan tenaga kerja untuk mengembalikan modal pemerintah akhirnya berubah
menggunakan teknologi mesin seiring dengan perkembangan zaman. Geertz dalam
bukunya yang berjudul Involusi Pertanian (2016), menjelaskan pada masa penjajahan,
pemerintah Belanda membuat system tanam paksa pada masyarakat Indonesia. Dengan
meunutut masyarakat mengganti tanaman padi dengan tanaman yang dianggap
menguntungkan keuangan untuk negara. Sistem tanam paksa diterapkan oleh VOC (Vereenigde
Oostindische Compagnie) di Indonesia yaitu petani akan dibebaskan dari pajak
tanah sebagai gantinya para petani harus menanam tanaman ekspor milik
pemerintah.
Sistem
tanam paksa ini lebih fokus pada penanaman lahan perkebunan tebu. Sebenarnya
pelaksanaan pengerjaan lahan perkebunan tebu harus menggunakan lahan yang luas
dan tenaga kerja dalam jumlah yang besar, namun karena tanaman tebu dapat
menghasilkan keuntungan besar maka pelaksaan system ini tetap diberlakukan. Kediri
merupakan salah satu wilayah di Jawa Timur yang memiliki jenis tanah yang subur
serta kondisi geografis yang mendukung seperti dekat dengan lokasi Sungai
Berantas dan wilayah yang strategis, sehingga sejak akhir abad ke – 19 orang –
orang Belanda membangun dan mengembangkan sentra pertanian dan perkebunan yang
ada di Kediri salah satunya Kawasan Perkebunan Djengkol dibawah naungan PG Ngadirejo.
Kediri
pada masa kolonial merupakan salah satu wilayah yang memiliki perkebunan besar
terutama sebagai produsen tebu di Jawa Timur. Hal ini terbukti dengan adanya
beberapa industri gula dibeberapa wilayah Kediri seperti Pabrik Gula Merican, Pabrik
Gula Tegowangi, Pabrik Gula Kencong, Pabrik Gula Kawarasan, Pabrik Gula
Purwoasri, dan Pabrik Gula Ngadirejo. Pabrik gula selalu melakukan produksi
gula pada saat musim panen tiba.
Pada
tahun 1975 Presiden Soeharto membuat instruksi Presiden No 9 tentang Tebu
Rakyat Indonesia dan mengilangkan peraturan yang sudah ada sejak masa pemeintahan
Belanda. Instruksi Presiden No 9 tahun 1975 diharapkan petani tebu berperan
aktif dalam produksi gula pasir dengan cara meningkatkan intesifikasi penanam
tanaman tebu diatas lahan miliknya sendiri dan diharapkan adanya swasebada gula
di tingkat nasional.
METODE
PENELITIAN
Pada
penelitian kali ini penulis menuggunakan metode kualitatif. Dengan tahapan heuristik
(pengumpulan sumber – sumber seperti jurnal, artikel, dan skripsi), kritik, interpretasi,
dan historiografi. Diharapkan dengan menggunakan metode penelitian diatas mampu dipertanggungjawabkan isi yang dibahas dalam artikel ini.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
- Kawasan
Perkebunan Tebu Djengkol Sebelum Peritiwa GESTAPU 1966
Djengkol adalah
sebuah nama dusun yang masuk wilayah Desa Plosokidul Kecamatan Plosoklaten.
Ketika masa kolonial Djengkol merupakan sebuah Kawasan perkebunan tebu yang
dikelola oleh orang Belanda sekitar abad ke 19. Periode 1800- 1900 an ketika Belanda
menjadikan kawasan ini menjadi sebuah perkebunan, disekitar area perkebunan
juga dihuni oleh orang – orang Belanda adapun diantara yang menikah dengan
pribumi. Meskipun daerah kecil namanya sangat dikenal masyarakat Jawa Timur
bahkan Indonesia. Pada tahun 1950 an pasca Kemerdekaan RI Presiden Soekarno
memberikan kebijakan untuk menasionalisasi perusahan asing, salah satu perusahaan
yang dinasionalisasi yakni perkebunan Djengkol dibawah naungan PG Ngadirejo
yang sebelumnya dikelola pihak Belanda.
Area perkebunan Djengkol juga disebut “Penataran
Djengkol”, awalnya adalah sebuah perkebunan cassava (ketela pohon/singkong)
bahan baku tepung tapioca dan serta nanas (untuk bahan karung) milih HVA (Handelsvereeninging
Amsterdam). Ketika Djengkol menjadi sebuah pabrik tebu, disekita area tersedia
berbagai sarana dan infrastrukur seperti pabrik (emplacement), perumahan untuk
karyawan, perumahan pimpinan perusahan yang bergaya sinder khas Belanda, rumah
ibadah masjid, sekolah, lapangan olahraga, sarana telekomunikasi dan listrik,
hingga terminal. Namun untuk saat ini sangat sulit untuk menemukan informasi
mengenai bangunan – bangunan yang tersedia ketika menjadi sebuah pabrik.
Untuk bekas pabrik masih ada namun sudah tidak
difungsikan sebagai pabrik lagi, hanya sebagai bukti sejarah. Setelah
nasionalisasi Djegnkol adalah lahan perkebunan PG. Ngadirejo (selatan Kediri),
namun saat ini menjadi wilayah Pabrik Gula Pesantren Baru. Lahan perkebunan
penataran Dejngkol ini berada disisi Timur Kawasan bekas pabrik Kentoong,
Simbar Lor, Simbar Kidul, Bakoong, Truneng, dan Kalasan. Namun secara
adminstratif kewilayahan masuk Kecamatan Plosoklaten, kemudian setelah adanya
pemekaran wilayah, menjadi bagian masuk ke Kecamatan Puncu.
Perbatasan disebelah utara (Dusun Mangunrejo Desa
Pranggang), bagian timur (area perkebunan dan hutan lindung Jamban), bagian
selatan (Dusun Bendo Desa Jarak), dan bagain barat (Dusun Blendri Desa
Plosokidul). Yang dihubungkan dengan kereta api uap (lorrie) Ketika proses
ditribusi tebu. Pada tahun 1980 masih tersisa bekas rel lorrie dan bekas
gerbong kereta, serta kompleks perumahan yang ada di area Djengkol masih tersedia
yang saat ini ditemapati oleh para buruh perkebunan yang mungkin merupakan
generasi ketiga atau keempat.
- Peristiwa
GESTAPU di Djengkol November 1966
Di daerah Dusun Simbar pada tahun 1960 - 1966 merupakan
salah satu daerah yang mempunyai banyak penduduk dari kalangan petani dan buruh
pabrik. Banyak penduduk yang bergabung dalam kelompok Barisan Tani Indonesia
(BTI) dan Sarbupri dibawah naungan Partai Komunis Indonesia. Para petani dan
buruh pabrik menggelar aksi untuk menolak Undang – Undang Pokok Agraria yang
sudah disahkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Aksi penolakan ini dilakukan karena para
petani dan buruh pabrik merasa bahwa tanah di area perkebunan Djengkol yang
sudah dibangun rumah – rumah milih para pekerja adalah milik mereka dan tidak
ingin dipindahkan ke daerah lain.
Sementara itu pihak perkebunan Pabrik Penataran Djengkol
yang ketika saat itu berada dibawah naungan PG Ngadirejo berusaha memberikan
penolakan juga terhadap aksi para petani dan buruh pabrik. Karena pihak pabrik
sudah bersedia memberikan ganti rugi namun dengan syarat para warga harus
meninggalkan area perkebunanan Djengkol. Berdasarakan sumber yang saya temukan
bahwa pihak PKI menghasut para masyaraka yang ada di Dusun Simbar untuk tetap menepati
tanah yang dianggap milik mereka. Hal ini menimbulkan konflik ketegangan antara
pihak perkebunan PG Ngadirejo dengan masyarakat yang tergabung dalam PKI. Pihak
PKI memberikan provokasi kepada masyarakat dengan menyebarkan isu bahwa jika
masyarakat bersedia melakukan aksi penolakan terhadap pemerintah maka mereka
akan mendapatkan bagian tanah yang ada disekitar perkebunan Penataran Djengkol.
1. Aksi
Demo
Selama tahun 1960 hingga tahun 1961 para
anggota PKI telah melakukan aksi demo untuk menolak pemindahan lahan. Aksi demo
tersebut juga mendapat bantuan dari anggota – anggota Barisan Tani Indonesia
dari daerah Papar dan Kanigoro. Mereka kemudian berkumpul menjadi satu di Dusun
Simbar dari berbagai daerah seperti Lamongan, Nganjuk, Blitar, Ngawi, Pekalongan,
Ponorogo, dan Tuban. Kekuatan yang dihasilkan semakin besar dan tidak
terkendali. Para anggota Partai Komunis Indonesia yang berjenis kelamin laki –
laki tergabung dalam Barisan Tani Indonesai yang menangui semua kaum tani yang
berada di area Perkebunan Djengkol. Sedangkan kaum perempuan tergabung dalam
kelompok GERWANI atau Gerakan Wanita Indonesia, untuk para pemuda pemudi yang
masuh kedalam anggota Partai Komunis Indonesia tergabung dalam kelompok Pemuda
Rakyat (Mukari : 2016)
2. Peristiwa
Penembakan
Pada tahun 1966 terjadi peristiwa penembakan
juga diawali aksi demo para petani dan buruh pabrik yang terjadi di Dusun Simbar
berada disebelah timur area perkebunan Djengkol, wilayah ini dibagi menjadi dua
yakni Simbar Lor dan Simbar Kidul. Ketika massa aksi berkumpul menjadi satu di
Dusun Simbar dari berbagai daerah, hal ini bertujuan untuk membantu para petani
dan buruh pabrik yang berada di area perkebunan Djengkol. Selain bertujuan
memberikan dukungan mereka juga mempunyai tujuan lain yakni untuk menguasai ladang
perkebunan yang ada disekitar perkebunan Djengkol.
Disisi lain Partai Komunis Indonesia
memberikan isu – isu politik kepada para massa. Yakni siapa saja yang akan ikut
aksi maka akan mendapat sebagain tanah area perkebunan Djengkol. Hal ini mendapat
respon positif maupun negatif. Yang memberi respon positif bersedia mengikuti
aksi demo dan percaya semua isu – isu yang ada, sedangkan yang merespon negatif
menolak mengikuti aksi demo dengan tegas. Sebelum aksi demo ini para anggota
PKI sudah melakukan kekejaman dengan membunuh polisi penjaga perkebunan dengan
sadis. Hal ini mengakibatkan para petani dan buruh yang sebelumnya berpihak
pada PKI sebagain mulai menentang PKI dan aksinya.
Karena situasi aksi demo pemamanas dan
pihak PG sudah tidak sanggup untuk menangani massa, akhirnya pemerintah
memerintahkan tentara dan kepolisian untuk
meredam situasi. Akhirnya demonstrasi yang awalnya sudah tidak terkendali pecah
dengan aksi penempakan aparat keamanan dengan PKI yang memakan korban 18 orang
tewas, 50 terluka. Setelah perisitiwa itu terjadi pembataian besar – besaran
tanpa hukum peradilan yang dilakukan oleh aparat sekitar 3000 simpatisan PKI
atau yang terduga PKI di Djengkol habis dibantai dan mayatnya dibuang di Sungai
Brantas.
Peristiwa yang terjadi pada bulan November
1966 ini menimbulkan trauma yang mendalam untuk para anak dan cucu yang terduga
PKI, karena hal ini belum terbukti dengan pasti namun nyawa mereka ada yang hilang
dan tidak pernah kembali bahkan meninggal. Hal ini menjadi sebuah cerita yang
menarik untuk dikaji ulang oleh para sejarawan, karena kasus pada tahun 1960 an
yang berkaitan dengan PKI sangat kontoversi dan sensitive untuk dibahas ataupun
dikaji publik.
- FUNGSI
BARU PERKEBUNAN TEBU DJENGKOL MENJADI WISATA EDUKASI
Sejak masa kolonial Belanda fungsi awal area
perkebunan tebu Djengkol ini adalah sebagai perkebunan tebu dan juga pabrik
untuk pembuatan gula. Seiring berjalannya waktu tahun 2017 pengelolan
perkebunan yakni pihak PG Pesantren Baru menetapkan Djengkol sebagai pusat
wisata edukasi bersejarah. Dengan hal ini sangat membuka peluang wisata untuk
menambah pajak daerah sekaligus edukasi untuk pelajar dan masyarakat disekitar perekbuan
Djengkol maupun luar daerah.
Apalagi di area perkebunan Djengkol sejak dibuka
menjadi wisata edukasi sejarah tersedia berbagai macam wahana bermain air,
flaying fox, ATV, dan juga para pengunjung diberikan kesempatan untuk melihat
bagaimana proses pembuata tebu hingga menjadi gula pasir namun dengan skala
yang kecil. Lokasi yang berada di tengah pedesaan dan hutan asri membuat salah
satu daya Tarik minat warga setempat maupun luar daerah yang akan liburan bersama
keluarga.
Juga tersedia PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) yang akan
mengembangkan Pusat Penelitian Gula di Djengkol dengan rencana akan memaksimalkan
dan mengoptimalkan penelitian dan pemuliaan varietas tebu di Djengkol. Mantan
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur yaitu adalah Subiyono menjelaskan,
salah satu penyebab terpuruknya industry fula di Indoensia adalah jenis varietasnya.
Yang mana varitetas saat ini sudah tua dan sudah mengalami obsolete atau
degenerative. Lembaga setempat juga sudah menyiapkan jenis varietas yang
lebih unggul.
- MAKANAN
BEKICOT SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR DJENGKOL
Pada tahun 1970 an di Dusun Djengkol terdapat budidaya
siput yang kemudian oleh para warga dirintis menjadi sebuah usaha kuliner
berbahan dasar siput atau bekicot. Berdasarkan informasi dari warga setempat
sebenarnya bekicot atau siput yang menjadi masakan khas Djengkol itu sudah
dikonsumsi warga sejak masa pendudukan Jepang di Indonesia pada Perang Dunia ke
II, karena pada masa ini terjadi krisis pangan akibat eksploitasi segala
potensi dalan negeri untuk Jepang dalam Perang Dunia ke II. Untuk mengganti
bahan pangan, para warga memasak bekicot atau siput sebagai sate atau kripik
menyerupai paru sapi yang digoreng kering.
Adanya alternatif pangan dilirik oleh pemerintah setempat,
kemudian mengajak masyarakat untuk menggalakan budidaya atau ternak bekicot
atau siput. Untuk saat ini jika kita berkunjung ke Djengkol masih banyak sekali
para penjual bekicot atau siput dengan berbagai macam olahan seperti sate,
gulai, soto, atau pun krengsengan dengan harga yang sangat terjangkau. Beberapa
penjual aneka kuliner bekicot atau siput sudah generasi ketiga dan keempat,
karena makanan ini dilestarikan secara turun temurun.
KESIMPULAN
Kediri
merupakan salah satu wilayah di Jawa Timur yang masuk kriteria tanah yang subur
dan geografis yang mendukung. Area perkebunan Djengkol pada sekitar abad ke 19
dijadikan Belanda sebagai pabrik gula. Hal ini disebabkan perkebunan tebu indutri
yang paling berkembang pesat masa ini, Indonesia menjadi swasembada dan
ekspotir tebu. Djengkol menjadi salah satu area perkebunan yang berpotensi.
Pada tahun 1960 – 1966 terjadi peristiwa pembantaian masal simpatisan dan yang
terduga PKI. Perkebunan Djengkol awalnya dinaungi oleh PG Ngadirejo kemudian
berpindah dikelola oleh PG Pesantren Baru.
Kemudian
pada tahun 2017 area perkebunan ini ditambah fungsinya sebagai wisata edukasi
sejarah untuk keluarga dan para pelajar serta lokasi penelitian varietas tebu
yng berkualitas. Disekitar area banyak warga yang berjulan kuliner berbahan
dasar bekicot atau siput, hal ini dilakukan selain untuk mencari nafkah juga
mewaris generasi – generasi keluarga mereka sebelumnya. Namun sejarah adalah
sebuah peristiwa yang sudah terjadi yang kita sendiri tidak akan tahu apa yang
terjadi sebenarnya dan sangat subjektif. Ada sebuah kutipan dari Benito Crose mengatakan
bahwa “Sejarah yang benar adalah sejarah masa kini”.
DAFTAR
RUJUKAN
Partho,
Ganang. 2011. De Ondernemingen Djengkol. Diakses pada 25 November 2020. Tersedia
pada http://ganang-partho.blogspot.com/2011/12/napak-tilas-ke-wilayah-perkebunan.html
Pradana,
Hafid Rofid. 2018. Perkembangan Kediri Stoomtram Maatschappij Pada Tahun
1895 – 1930. E-Journal Pendidikan Sejarah (Internet), (diunduh 2020 Nov 01):
Universitas Negeri Surabaya, vol 6 (2). Dari https://journal.unesa.ac.id
PTPN
X Kembangkan Puslit Djengkol. 2016. Diakses pada 2020
Des 01. Tersedia pada https://ptpn10.co.id/blog/ptpn-x-kembangkan-puslit-jengkol
Setiawan,
Moh. Heris. 2016. Sejarah Peristiwa PKI di Dusun Djengkol Desa Plosokidul
Kediri 1961 – 1966. Artikel Skripsi FKIP Pendidikan Sejarah (Internet),
(diunduh 2020 Okt 28): Universitas Nusantara PGRI Kediri. Tersedia pada https://simki.unpkediri.ac.id
Komentar
Posting Komentar