Malang, 18 Februari 2020
Utia Binti Yuhanni'ur Rohmah
Lokasi Museum Renactor Malang berada di Kelurahan Sumbersari, Lowokwaru, Kota Malang ini untung saja tidak jauh dari kampus UM, hanya berjarak sekitar 2 km dengan waktu tempuh 10 menit menggunakan motor. Museum ini berdiri adanya Komunitas Renactor Malang yang memilki hobi sama denagn metode historical reenactment
Yang paling menarik menurutku adalah ada yang mengklaim bahwa museum ini menjadi museum renactor pertama di Indonesia. Ketika aku dan teman - teman sudah sampai di lokasi, sempat kaget karena lokasi yang berda di tengah kampung dan terpencil masuk. Disamping museum ada bekas gedung tinggi dengan coretan dan gambar yang mengobarkan semangat perjuangan saat itu, namun sayangnya kurang terawat dan kotor. Mungkin saja gedung tersebut bekas gedung yang digunakan pada masa perjuangan kemerdekaan masa itu. Tidak ada informasi yang menjelaskan fungsi gedung itu.
Setelah melihat aku masuk ke dalam museum yang bangunanya berukuran 8x10 meter persegi. Disebelah kanan ada perabotan - perabotan klasik yang digunakan para pejuang dahulu seperti mangkuk, kursi, radio, meja, serat alat transportasi yang sangat familiar saat itu yaitu sepeda ontel jawa, serta benda - benda sejarah yang lainnya.
Selanjutnya juga ditampilkan majalah, koran lama masa perjuangan, perlengkapan perang, pistol Belanda yang digunakan, topi perang, meriam, bambu runcing dan semua yang berkaitan dengan perjuangan para pemuda masa Agresi Militer I yang berada di wilayah Malang yang terlihat sangat asli karena berat dan ukurannya sama dengan asli. Aku sempat bingung bagaimana para pengelola bisa mengumpulkan semuanya, karena ternyata barang - barang rekaan yang terlihat asli tersebut terbuat dari barang bekas yang tidak terpakai dengan keaslian 1: 1.
Proses pembuatan sudah dimulai sejak tahun 2007 dan baru diresmikan bualn September 2018. Yang membuat ku kagum adalah para pendiri museum yang sangat antusias menghidupakan kembali sejarah selama bertahun - tahun. Museum ini menurutku sangat penting karena belum ada sejarawan atau para penyuka sejarah yang menggunkana metode historical reenactment ini karena proses pembuatan yang lama dan butuh ketelitian.
Di museum ini aku merasa sangat bangga masih ada orang yang peduli dengan sejarah, membuat replika semirip mungkin. Hal ini membuat ku semakain menghargai dan menghormati para pahlawan dan sejarawan pada masa kemerdekaan hingga saat ini. Karena mencari sebuah sumber sejarah itu sangat sulit, sumber tidak hanya berupa naskah saja. Marilah kita saling menjaga sumber maupun sejarah itu sendiri.
Utia Binti Yuhanni'ur Rohmah
Situs Sejarah Jarang Diketahui Museum Renactor Malang
Saat ini aku sedang menjalani pendidikan S1 di Universitas Negeri Malang jurusan Ilmu Sejarah semester ke dua. Banyak yang bertanya kenapa memilih jurusan sejarah?, ya karena sejarah itu ilmu yang menurutku unik, luas, bijaksana, dan tentunya menantang. Menurutku ku prodi pendidikan sejarah dan ilmu sejarah itu berbeda, ilmu sejarah menuntut mahasiswa untuk lebih aktif, kritis, berwawasan luas. Nah yang paling aku suka adalah jalan - jalan sambil belajar atau yang biasa disebut mahasiswa adalah KKL (Kuliah Kerja Lapangan). KKL kecil yang dilakukan prodi ilmu sejarah biasanya dilakukan setiap semester, berbeda dengan jurusan yang lain yang biasa dilakukan ketika semester 5. Semester 1 kemarin satu kelas ada matakuliah Historiografi Umum, dalam matakuliah ini kita harus praktek langsung melihat lapangan yang tujuannya adalah Museum Renactor Malang.
Yang paling menarik menurutku adalah ada yang mengklaim bahwa museum ini menjadi museum renactor pertama di Indonesia. Ketika aku dan teman - teman sudah sampai di lokasi, sempat kaget karena lokasi yang berda di tengah kampung dan terpencil masuk. Disamping museum ada bekas gedung tinggi dengan coretan dan gambar yang mengobarkan semangat perjuangan saat itu, namun sayangnya kurang terawat dan kotor. Mungkin saja gedung tersebut bekas gedung yang digunakan pada masa perjuangan kemerdekaan masa itu. Tidak ada informasi yang menjelaskan fungsi gedung itu.
Setelah melihat aku masuk ke dalam museum yang bangunanya berukuran 8x10 meter persegi. Disebelah kanan ada perabotan - perabotan klasik yang digunakan para pejuang dahulu seperti mangkuk, kursi, radio, meja, serat alat transportasi yang sangat familiar saat itu yaitu sepeda ontel jawa, serta benda - benda sejarah yang lainnya.
Selanjutnya juga ditampilkan majalah, koran lama masa perjuangan, perlengkapan perang, pistol Belanda yang digunakan, topi perang, meriam, bambu runcing dan semua yang berkaitan dengan perjuangan para pemuda masa Agresi Militer I yang berada di wilayah Malang yang terlihat sangat asli karena berat dan ukurannya sama dengan asli. Aku sempat bingung bagaimana para pengelola bisa mengumpulkan semuanya, karena ternyata barang - barang rekaan yang terlihat asli tersebut terbuat dari barang bekas yang tidak terpakai dengan keaslian 1: 1.
Proses pembuatan sudah dimulai sejak tahun 2007 dan baru diresmikan bualn September 2018. Yang membuat ku kagum adalah para pendiri museum yang sangat antusias menghidupakan kembali sejarah selama bertahun - tahun. Museum ini menurutku sangat penting karena belum ada sejarawan atau para penyuka sejarah yang menggunkana metode historical reenactment ini karena proses pembuatan yang lama dan butuh ketelitian.
Di museum ini aku merasa sangat bangga masih ada orang yang peduli dengan sejarah, membuat replika semirip mungkin. Hal ini membuat ku semakain menghargai dan menghormati para pahlawan dan sejarawan pada masa kemerdekaan hingga saat ini. Karena mencari sebuah sumber sejarah itu sangat sulit, sumber tidak hanya berupa naskah saja. Marilah kita saling menjaga sumber maupun sejarah itu sendiri.




Komentar
Posting Komentar